Sultan Kutai Laksanakan Bepelas
Upacara adat Kutai pada malam datangnya Erau ini, hal yang salah satu upacara sakral yang wajib dilaksanakan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura pada setiap malam selama acara adat berlangsungnya pesta adat Erau adalah ritual Bepelas.
Maka pada malam pertama Erau Tepong Tawar 2011, yang lalu berjalan, upacara adat Bepelas ini dilakukan langsung oleh Sultan Kutai H Adji Mohd Salehoeddin II di Keraton Kutai Kartanegara atau Museum Mulawarman, Tenggarong.
Pada upacara ini, dihadiri oleh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara dan dihadiri oleh para undangan lainnya, upacara adat Bepelas ini yang berlangsung dengan tertib dan khidmat iniselain itu hadir pula Bupati Kukar Rita Widyasari dan wakilnya HM Ghufron Yusuf, dan Plt Ketua DPRD Kukar Awang Yacoub Luthman beserta Staf dan anggota, Khusus Presiden SBY Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Dr Felix Wanggai hadir ditengah-tengah para undangan tersebut.
Selama berlangsungnya upacara adat Kutai Kartanegara 2011 ini, maka sejumlah tari- tarian sakral disuguhkan oleh para kerabat Kesultanan Kutai kartenegar bersama-sama pawang perempuan yang juga disebut Dewa.
Para menari sambil mengelilingi Ayu atau Sangkoh Piatu yang telah berdiri tegak di atas tikar berukiran dan beras berwarna warni yang disebut Tambak Karang.
Setelah para Dewa membawakan sejumlah tarian yang mengelilingi Ayu, maka giliran beberapa anggota kerabat Kesultanan Kutai tampil membawakan tari Ganjar Ganjur. Beberapa tamu khusus juga didaulat untuk menari bersama Kerabat Kesulatanan membawakan tarian tersebut.
Setelah selesai suguhan taria-tarian ini, maka Sultan H Adji Mohd Salehoeeddin II pun dijemput untuk Belian dan Dewa untuk menjalani ritual Bepelas di hadapan Sangkoh Piatu.
Dalam upacara puncak Bepelas untuk malam pertama ini, berlangsung cukup singkat. Karena baru malam pertama, Sultan hanya satu kali menginjakkan kakinya ke gong Raden Galuh untuk dipelas.
Bersamaan dengan dijejakkannya kaki kiri Sultan di atas gong, ditadai dengan suara gelegar ledakan terdengar dari arah dermaga depan Museum Mulawarman Tenggarong.
Di bagian akhir upacara Bepelas, tari-tarian kembali diperagakan di ruang Setinggil Keraton. Para tamu atau undangan khususnya tampil dan ikut didaulat menari bersama kerabat Kesultanan Kutai, termasuk Bupati Kukar Rita Widyasari yang diminta tampil membawakan Tari Kanjar Bini.
Tak terkucuali Staf Ahli Presiden SBY Felix Wanggai yang juga diminta untuk menari bersama Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat dan kerabat Keraton lainnya membawakan tari bersama.
Menurut Felix Wanggai, Erau Tepong Tawar 2011 ini, dengan berbagai upacara ritualnya sangat menarik untuk disaksikan. "Beruntung saya dan istri bisa datang langsung melihat prosesi Erau yang sangat unik dan original ini," ungkapnya. (Red)
Tampil Mirip
Orang Dayak
Pada setia penyelenggaraan even berskala besar Erau di Tenggarong Kukar Kaltim selalu terlihat suana pemandangan yang Unik berbagai cara diperagakan.
Tak kecuali pada perhelatan pesta adat dan seni budaya rakyat Kutai atau disebut Erau Tepong Tawar di Tanah Kutai tahun 2011 yang akan berakhir di Tenggarong pada 10 Juli 2011.
Pemandangan menarik itu terlukis pada pesta adat ini, di arena Expo Erau 2011 yang dipusatkan di gelanggang olahraga bekas arena Pacuan Kuda PON XVII Kaltim, Komplek Stadion Aji Imbut Tenggarong Seberang.
Maklum, dari sebagian pengunjung ramai-ramai mengubah penampilan mirip orang Dayak ketika masuk stand pameran Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kutai Timur.
Stand Disporapar Kutim yang berseberangan dengan stand Dinas Kominfo Kaltim itu memang mengundang perhatian banyak pengunjung. Pasalnya, Disporapar Kutim menampilkan berbagai barang kerajinan manik-manik khas suku Dayak Kaltim seperti pakaian adat dan asesorisnya.
Tak heran kalau booth atau stand pameran ini bergantian diserbu pengunjung untuk mencoba mengenakan pakaian adat tersebut.
“Sejak booth dibuka, pengunjung tak henti-hentinya ingin mencoba mengenakan asesoris pakaian adat suku Dayak dalam pameran tersebut.
Apalagi ini kan gratis, dan kata mereka sih biar terlihat seperti orang Dayak benaran, “ aku Epi, sang penjaga anjungan Disporapar Kutim.
Epi melukiskan, pengunjung yang mencoba beragam asesoris khas Dayak Borneo East, ini tak hanya berada daerah Kaltim sendiri, melainkan dari beberapa daerah di Indonesia seperti Papua, Jakarta, Bali dan bahkan dari mancanegara seperti Paris (Francis).
“Mereka umumnya ingin mencoba memakai pakaian adat suku Dayak lengkap dengan asesorisnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Yang patut kita cermati, seorang Putri Pariwisata Indonesia 2010 yang asal dari Kota Manado, Sulut, Cynthia Sandra Tirayoh pun mengujungi ke stand ini.
Cynthia tidak hanya ingin melihat-lihat namun bersama-sama putri dari pariwisata lainnya antaranya dari Sulawesi Barat (Sulbar), Vessa Ekanta Sukhi, tapi ia menyempatkan mencoba pakaian adat Dayak ini, sambil ramai-ramai diabadikan bersama rekan-rekannya dengan kamera digital.
Menurut Epi,rata-rata pengunjung Expo Erau Tepon Tawar 2011 ini sangat tertarik dengan kekhasan asesoris suku Dayak Kaltim.
Bahkan,mereka rela menunggu antrean untuk mencoba pakaian adat dayak dan berbagai asesoris manik-manik yang dipamerkan.
“Kadang saya bangga melihat antusias pengunjung yang sangat ingin mengetahui kekhasan suku Dayak Kaltim dengan berbagai ritual adatnya itu,” jelasnya.
Aji Syarifah Rahmawati, misalnya, adalah salah satu pengunjung yang mengaku terkesan dengan stand Disporapar Kutim. Terlebih ia sendiri yang mencintai kebudayaan ini belum pernah mencoba memakai pakaian khas Dayak sebelumnya.
“Saya bersyukur ada booth yang memudahkan kita untuk foto-foto dengan baju adat secara gratis.
Kalau di studio foto pasti mahal, belum lagi harus sewa pakaian adatnya,” aku Aji yang sempat mejeng dan berpose dengan pakaian adat dayak di depan kamera.
Bagaimana kesan Aji Syarifah? “Saya merasa bangga, karena Kutai Kartanegara ini punya nilai historis yang teramat kental.
Lagi pula ini kesempatan yang langka. Jadi sayang jika dilewatkan begitu saja,” tegas Aji seraya menghendaki agar seluruh warga Kutai selalu mencintai dan mengembangkan adat dan seni budaya Kaltim.
Aji Syarifah mungkin benar, Stand Disporapar Kutim ini memang satu-satunya di antara peserta Expo Erau yang ke 81 peserta Expo Erau 2011, menampilkan berbagai barang kerajinan adat Dayak Kaltim dan asesorisnya. Tak heran kalau pengunjung Expo Erau 2011 sebagai bagian dari rangkaian Erau Tepong Tawar di Tanah Kutai Tenggarong ini, dan mesara tertarik berkunjung ke Tenggarong Kukar Kaltim ini. (arif maulana-dil/diskominfo/Sph)



